Mengapa Gorengan Menjadi Pantangan Makanan Penderita Jantung Koroner ??

December 29, 2016

PJK atau penyakit jantung koroner biasanya terjadi sebagai akibat dari aterosklerosis, yaitu suatu kondisi yang menyebabkan kolesterol menumpuk pada dinding pembuluh darah arteri. Kolesterol yang menumpuk ini disebut plak aterosklerotik dan dapat menghalangi pasokan darah masuk ke arteri. Arteri jantung normal yaitu bersih dari sumbatan dan dapat menyuplai darah ke jantung tanpa hambatan.

Terbentuknya plak aterosklerosis dalam arteri koroner paling sering disebabkan oleh peningkatan kadar kolesterol yang didapatkan dari makanan penderita jantung yaitu gorengan.  Peningkatan kadar kolesterol diduga karena adanya asam lemak jenuh serta radikal bebas yang terkandung dalam minyak sisa penggorengan yang digunakan. Fajrin (2010) mengungkapkan bahwa peningkatan kadar kolesterol total dapat diakibatkan karena konsumsi asam lemak jenuh dan adanya radikal bebas akibat proses hidrolisis dan oksidasi saat pemanasan minyak.

Konsumsi asam lemak jenuh menyebabkan meningkatnya penimbunan lemak di hati, sehingga terjadi peningkatan asetil KoA dalam sel hati untuk menghasilkan kolesterol, menyebabkan kadar kolesterol dalam darah meningkat.

Sedangkan radikal bebas yang terkandung dalam minyak sisa penggorengan dari makanan penderita jantung, diduga dapat mengoksidasi LDL sehingga menimbulkan berbagai kerusakan. Radikal bebas yang terkandung dalam minyak goreng bekas pakai dapat merusak asam nukleat, protein dan membran lipid sehingga dapat menimbulkan kerusakan hati. Sedangkan kerusakan hati itu sendiri dapat mengganggu metabolisme dan ekskresi kolesterol dari dalam tubuh sehingga kadar kolesterol total dapat meningkat.

Radikal  bebas yang terkandung dalam minyak sisa penggorengan memberikan pengaruh yang besar dan bermakna terhadap kadar hemoglobin sehingga menyebabkan menurunnya jumlah oksigen yang terangkut. Penurunan jumlah oksigen memacu sintesis hemoglobin yang lebih banyak menyebabkan peningkatan kadar hemoglobin.

Radikal bebas berat dan bersifat akut menyebabkan turunnya oksigen yang terangkut, untuk menutupi kekurangan oksigen, maka hemoglobin memperbanyak diri. Peningkatan nilai hemoglobin diikuti pula dengan peningkatan nilai hematokrit, karena nilai hematokrit adalah perbandingan antara sel darah merah dan volume darah keseluruhan sehingga dengan meningkatnya sel darah merah dan hemoglobin, maka nilai hematokrit juga akan meningkat.

Peningkatan kadar hemoglobin dan hematokrit dari kadar normalnya perlu diwaspadai, karena jika terlalu tinggi dapat menyebabkan darah menjadi kental yang akhirnya dapat berakibat pada gangguan sirkulasi darah. peningkatan kadar komponen plasma yang bersirkulasi menunjukkan terjadinya peningkatan viskositas darah. Peningkatan viskositas darah akan mengurangi kecepatan aliran darah dan gangguan penghantaran oksigen ke jaringan.

Posted in Informasi by dr. Ayu Indah Lestari | Tags: ,

Leave a Comment